Banyak orang-orang yang tidak tahu tentang manhaj salafy mengatakan bahwa salafy itu sesat dll. Tapi MUI sendiri mengatakam bahwa Manhaj salafi itu tidak sesat, ini bukti fatwa MUI.
Sumber : Artikel As Sunnah



Download filenya DISINI
Fatwa MUI Jak-Ut Ttg Salafi

Read More..

Berikut ini adalah kajian Ilmiah hari Minggu malam Senin 25 Juli 2010, tentang Hadits ke 4, Kitab Hadits Arba'in An Nawawi:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bahwa penciptaan manusia diciptakan oleh Allah dari air yang hina (air mani), dari air mani menjadi kuat seperti sekarang ini, semua adalah karena kekuasaan Allah Subhanahu Wata'ala. Maka tidak perlu ada yang disombongkan karena kita diciptakan oleh Allah dari air yang hina.....download kajian lengkapnya melalui link dibawah ini:
- Kajian Hadits Arbain 25 Jul 2010 Ust Mahfud Umri Lc
- Tanya Jawab kajian 25 Jul 2010 Ust Mahfud Umri Lc

Read More..

Adalah kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh Majelis Ta'lim As Sunnah, yaitu pengobatan masal gratis, yang diadakan secara rutin hampir setiap 3 bulan sekali. Pelayanan pengobatan masal ini diperuntukan bagi warga masyarakat umum di RW 01, RW 08 dan sekitarnya yang memerlukannya. Kegiatan ini Insya Alloh akan dilaksanakan pada hari ini Sabtu 24 juli 2010 mulai dari jam 09:00 sampai dengan selesai.

Berita ini sudah disampaikan kepada Jama'ah As Sunnah pada kajian Ahad malam Senin lalu, sudah diumumkan melalui media pengeras suara di beberapa Musholla dan masjid disekitar RW 01 dan RW 08 Harjamukti. Bagi anda yang sedang menderita sakit atau sekedar memeriksakan kesehatan anda, silahkan datang ke alamat Jl. Nakula I Nomor 1 Harjamukti Cimanggis Depok (kediaman Bpk H. Ngadiman)

Dan ingat, untuk pelayanan kesehatan ini, baik obat maupun jasa dokter adalah GRATIS

Read More..

TAWASSUL YANG DISYARIA'ATKAN

Posted by Admin | 4:59 PM

Allah swt berfirman yang bermaksud,
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri KepadaNya." (Al-Maa'idah: 35)

Qatadah berkata, "Dekatkanlah dirimu kepadaNya, dengan keta'atan dan amal yang membuatNya redha."

Tawassul yang disyariatkan adalah tawassul sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Quran, diteladankan oleh Rasulullah SAW dan dipraktikkan oleh para sahabat.

Di antara tawassul yang disyariatkan iaitu:

1. Tawassul dengan iman:

Seperti yang dikisahkan Allah dalam Al-Quran tentang hambaNya yang bertawassul dengan iman mereka. Allah swt berfirman yang bermaksud,
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (iaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu', maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 193)

2. Tawassul dengan mengesakan Allah:

Seperti doa Nabi Yunus Alaihis Salam, ketika ditelan oleh ikan Nun. Allah mengisahkan dalam firmanNya yang bermaksud:
"Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Bahawa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya, dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (Al-Anbiyaa': 87-88)

3. Tawassul dengan Nama-Nama Allah:

Sebagaimana tersebut dalam firmanNya yang bermaksud,
"Hanya milik Allah Asma'ul Husna, maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma'ul Husna itu." (Al-A'raaf: 180)

Di antara doa Rasulullah SAW dengan Nama-namaNya iaitu:

"Aku memohon KepadaMu dengan segala nama yang Engkau miliki." (HR. At-Tirmizi, hadis hasan shahih)

4. Tawassul dengan Sifat-Sifat Allah:

Sebagaimana doa Rasulullah SAW yang bermaksud,
"Wahai Zat Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku mohon pertolongan." (HR. At-Tirmizi, hadis hasan)

5. Tawassul dengan amal shalih:

Seperti shalat, berbakti kepada kedua orang tua, menjaga hak dan amanah, bersedekah, zikir, membaca Al-Quran, shalawat atas Nabi, kecintaan kita kepada beliau dan kepada para sahabatnya, serta amal shalih lainnya.

Dalam kitab Shahih Muslim terdapat riwayat yang mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalihnya. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya, berupa memelihara hak buruh. Orang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tua. Orang yang ketiga bertawassul dengan takutnya kepada Allah, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak ia lakukan. Akhirnya Allah membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, sampai mereka semua selamat.

6. Tawassul dengan meninggalkan maksiat:

Misalnya dengan meninggalkan minum khamr (minum-minuman keras), berzina dan sebagainya dari berbagai hal yang diharamkan. Salah seorang dari mereka yang terperangkap dalam gua, juga bertawassul dengan meninggalkan zina, sehingga Allah menghilangkan kesulitan yang dihadapinya.

Adapun umat Islam sekarang, mereka meninggalkan amal shalih dan bertawassul dengannya, lalu menyandarkan diri bertawassul dengan amal shalih orang lain yang telah mati. Mereka melanggar petunjuk Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

7. Tawassul dengan memohon doa kepada para nabi dan orang-orang shalih yang masih hidup.

Tersebutlah dalam riwayat, bahawa seorang buta datang kepada Nabi. Orang itu berkata, "Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia menyembuhkanku (sehingga boleh melihat kembali)." Rasulullah SAW menjawab, "Jika engkau menghendaki, aku akan berdoa untukmu, dan jika engkau menghendaki, bersabar adalah lebih baik bagimu." Ia (tetap) berkata, "Doakanlah." Lalu Rasulullah SAW menyuruhnya berwuduk secara sempurna, lalu shalat dua rakaat, selanjutnya beliau menyuruhnya berdoa dengan mengatakan,
"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhiNya untukku. Ya Allah jadikanlah ia pemberi syafaat kepadaku, dan berilah aku syafaat (pertolongan) di dalamnya." la berkata, "Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga ia sembuh." (HR. Ahmad, hadis shahih)

Hadis di atas mengandungi pengertian bahawa Rasulullah SAW berdoa untuk laki-laki buta tersebut dalam keadaan beliau masih hidup. Maka Allah swt mengabulkan doanya.

Rasulullah SAW memerintahkan orang tersebut agar berdoa untuk dirinya. Menghadap kepada Allah swt untuk meminta kepadaNya agar Dia menerima syafaat NabiNya. Maka Allah pun menerima doanya.

Doa ini khusus ketika Nabi masih hidup. Dan tidak mungkin berdoa dengannya setelah beliau wafat. Sebab para sahabat tidak melakukan hal itu. Juga, orang-orang buta lainnya tidak ada yang mendapatkan manfaat dengan doa itu, setelah terjadinya peristiwa tersebut.

TAWASSUL YANG DILARANG

Tawassul yang dilarang adalah tawassul yang tidak ada dasarnya dalam agama Islam.

Di antara tawassul yang dilarang iaitu:

1. Tawassul dengan orang-orang mati, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka, sebagaimana banyak kita saksikan pada saat ini.

Mereka menamakan perbuatan tersebut sebagai tawassul, padahal sebenarnya tidak demikian. Sebab tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyariatkan. Seperti dengan perantara iman, amal shalih, Asmaa'ul Husnaa dan sebagainya.

Berdoa dan memohon kepada orang-orang mati adalah berpaling dari Allah. Ia termasuk syirik besar. Allah berfirman yang bermaksud,

"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim". (Yunus: 106)

Orang-orang zalim dalam ayat di atas bererti orang-orang musyrik.

2. Tawassul dengan kemuliaan Rasulullah SAW. Seperti ucapan mereka, "Wahai Tuhanku, dengan kemuliaan Muhammad, sembuhkanlah aku." Ini adalah perbuatan bid'ah. Sebab para sahabat tidak melakukan hal tersebut.

Adapun tawassul yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab dengan doa bapa saudara Rasulullah SAW, Al-Abbas adalah semasa ia masih hidup. Dan Umar tidak bertawassul dengan Rasulullah SAW setelah beliau wafat.

Sedangkan hadis yang bermaksud,
"Bertawassullah kalian dengan kemuliaanku."

Hadis tersebut sama sekali tidak ada sumber aslinya. Demikian menurut Ibnu Taimiyah.

Tawassul bid'ah ini boleh menyebabkan pada kemusyrikan. Iaitu jika ia mempercayai bahawa Allah memperlukan perantara. Sebagaimana seorang pemimpin atau penguasa. Sebab dengan demikian ia menyamakan Tuhan dengan makhlukNya.

Abu Hanifah berkata, "Aku benci memohon kepada Allah, dengan selain Allah." Demikian seperti disebutkan dalam kitab Ad-Durrul Mukhtaar.

3. Meminta agar Rasulullah SAW mendoakan dirinya setelah beliau wafat, seperti ucapan mereka, "Ya Rasulullah SAW doakanlah aku", ini tidak diperbolehkan. Sebab para sahabat tidak pernah melakukannya. Juga kerana Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud,

"Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan kepada (orang tua)-nya." (HR. Muslim).

Read More..

iKajian Ustad Wijaya Rahmat kali ini tidak melanjutkan kitab Tauhid Jilid 1 sebagaimana biasanya, tetapi mereview kajian-kajian sebelumnya, dan himbauan agar setelah memperoleh ilmu dari pengajian rutin ini, dapat ditularkan kepada anak dan isteri dirumah, sebagaimana Surat At-Tahrim ayat 6, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan"

Laki-laki bertugas menjaga anak dan isterinya supaya tidak masuk neraka, laki-laki yang sudah berkeluarga, setelah menikah maka bagi laki-laki kewajibannya dan bagaimana hubungannya dengan isteri, tanggung jawabnya kepada keluarga (anak isteri) diterangkan oleh Allah di dalam Quran Surat An-Nisa ayat 34: " Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Dalam ayat ini diterkangkan bahwa kaum laki-laki merupakan pemimpin kaum wanita, kenapa Allah mengamanatkan kaum laki-laki? yang sering kita dengar, saling membina, saling memimpin, saling membimbing. Tetapi ayat berbunyi "Arrijaalu Qawwaamuuna 'alannisaa" (laki-laki merupakan pemmpin kaum wanita). Disini artinya bertindak sebagai orang dewasa terhadap wanita, yang menguasai, yang mendidik, yang membimbing, yang mengarahkan, yang membina wanita yakni isterinya. Apa sebabnya Allah mengamanatkan kaum laki-laki untuk memimpin kaum wanita? sebabnya diterangkan dalam ayat berikutnya....silahkan mendengarkan rekaman kajian lengkapnya dengan mendownload melalui link berikut:

- Kajian Ustad Wijaya Rahmat tanggal 20 Juni 2010
- Kajian Ustad Wijaya Rahmat tanggal 20 Juni 2010 (tanya jawab)

Read More..

Kajian Majelis Ta'lim As-Sunah, pada tanggal 13 Juni 2010, disampaikan oleh Ustad Abu Yahya Badrussalam, yang bertemakan "Kesempurnaan Islam", berikut ini adalah cuplikan sedikit dari kajian tersebut, dan jika anda menghendaki untuk mendapatkan versi audionya silahkan mendownload dari link yang kami sediakan pada akhir srtikel ini.

Kesempurnaan islam merupakan kenikmatan yang agung untuk umatnya. Islam telah sempurna sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Almaidah ayat 3: "...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu"
Ayat ini turun pada saat Rosulullah shalallohu'alaihi wassalam, melaksanakan haji wada yang terakhir pada tahun ke sepuluh, pada hari Jumat sore di hari Arafah. Ibnu katsir mengatakan bahwa "ini adalah nikmat Alloh yang paling besar kepada umat ini dimana Alloh menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak butuh lagi pada agama selainnya, dan tidak butuh pula seorang Nabi pun selain Nabi mereka (Muhammad sholallohu 'alaihi wassalam). Karena itu, Allah menjadikan Nabi mereka sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada manusia dan jin. Tiada kehalalan kecuali apa yang dihalalkannya, tiada keharaman kecuali apa yang diharamkannya, dan tiada agama kecuali apa yang disyari'atkannya. Segala yang diberitakannya adalah kebenaran dan kejujuran. Tiada kedustaan dan pengkhianatan dalam dirinya"

Sebagai muslim, wajib mengimani ayat tersebut, dan yang mengakui bahwa islam belum sempurna berarti dia menolak Al-Quran. Konsekuensinya adalah:
1. Islam sudah mengatur seluruh yang berhubungan dengan kehiduoan manusia.
2. Kita tidak boleh membuat-buat cara tersendiri dalam agama, tidak boleh menambah-nambah sesuatu yang tidak disyari'atkan oleh Rasululloh shallalahu 'alaihi wasallam. Seperti dicontohkan seperti sebuah gelas yang sudah penuh diisi air, maka apabila ditambah satu tetespun, maka air itu akan tumpah (tertolak). Demikian pula dalam agama islam yang sudah sempurna, apabila kita menambahkan sesuatu, maka ditolak oleh Alloh subhanahu wata'ala, Rasulullah bersabda "barang siapa mengamalkan amalan yang tidak ada diatasnya perintah kami amalan itu, maka amalan tersebut tertolak. Tentang kesempurnaan islam ini diakui oleh seorang yahudi, dia berkata kepada Umar bin Khatab, sesungguhnya kalian membaca satu ayat yang ada dalam kitab kalian, kalaulah kepada kami (orang yahudi) ayat tersebut turun, maka akan kami jadikan hari itu sebagai hari Raya....

Untuk mendownload kajian versi audionya silahkan klik link berikut: 

Read More..

Ringkasan kajian Majelis Ta'lim As-Sunnah tanggal 6 Juni 2010, disampaikan oleh Ustad Wijaya Rahmat dengan tema : Masalah Kiriman Pahala. Versi Audio dapat anda download melalui link yang terdapat pada akhir artikel ini.

Hadis diriwayatkan beberapa Imam, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah dan Imam Ahmad, Bahwasanya Rosululloh SAW bersabda: "Sesungguhnya yang sebaikbaik yang dimakan seseorang adalah hasil usahanya, dan anak termasuk dari hasil usahanya". Hadis yang lain yang Diriwayatkan dari aisyah bahwa Nabi Shollallu 'alaihiwasallam bersabda, "anak seseorang itu merupakan usahanya, termasuk usaha yang baik. silahkan kamu makan dari hartanya"

Artinya orang tua boleh makan dari usaha anaknya, karena anak merupakan hasil usaha orang tuanya.
Hadits yang lain: "Ada seorang laik-lakui datang kepada Nabi Shollallu 'alaihiwasallam, dan berkata: saya ini punya harta tapi juga punya anak, tapi bapakku menginginkan hartaku. maka sabda Rasulullah Shollallu 'alaihiwasallam, bahkan kamu dan hartamu kepunyaan bapakmu. demikian pula anak-anakmu merupakan hasil usahamu"

Seolah-olah hadis tersebut agak bertentangan dengan ayat Al Quran sbb.
Dalam surat An-Najm ayat 38 dan 39, artinya:
Ayat 38: "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain"
Ayat 39: "dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya"

Untuk mendownload kajian versi audio, silahkan klik link berikut:

Read More..

Kajian pada tanggal 30 Mei 2010 diisi oleh Ustad Mahfud Umri Lc, dengan judul diatas.
Keluarga adalah merupakan harta yang paling mahal yang kita miliki, karena seorang ayah berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Yang bisa diraih oleh sebuah keluarga dalam kehidupan dunia ini diantaranya adalah, bisa bercanda bersama keluarga, bisa berekreasi menikmati keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala, menikmati makanan di meja makan dirumah bersama-sama.
Tentunya kondisi kebahagiaan seperti itu jangan sampai hanya berhenti disitu saja, tentunya kita ingin kebahagiaan ini berlanjut terus menuju ridho Allah Subhanahu Wata'ala, yaitu bisa bersama dengan keluarga kita di sorga. Dimana ini dijamin oleh Allah dalam Alquran surat At-Thuur ayat 21 yang artinya "Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya"

Maknanya di sorga itu bertingkat-tingkat, apabila seseorang masuk pada tingkat tertentu maka tidak bisa bertemu dengan yang lainnya, apabila mereka berbeda tingkat, kecuali yang telah diridhoi dan mendapakan izin dari Allah Subhanahu Wata'ala diantaranya adalah satu keluarga.Alhafidh Ibnu Katsir mengatakan: Allah Subhanahu Wata'ala telah menghabarkan, Dengan keutamaanNya dengan kemuliaanNya dan dengan karunia Allah serta kelembutan Allah dan kebaikan Allah kepada makhlukNya, Alloh menghabarkan bahwa orang orang yang beriman kemudian diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan maka kami kumpulkan bersama bapak-bapaknya bersama keluarganya dalam satu manzillah (dalam satu tingkatan). Meskipun satu sama lain berbeda ibunya, maka keluarga itu akan dikumpulkan untuk apa...agar menyejukkan pandangan Bapak-bapak mereka ketika mereka berada dalam satu tingkatan.

Ada empat poin jalan menuju sorga bersama keluarga yaitu:
1. Tauhid: mengesakan Alloh, lawannya adalah kesyirikan (menyekutukan Allah)
2. Birul Walidain: berbakti kepada kedua orang tua, lawannya adalah durhaka kepada orang tua.
3. Silaturahim: menyambung ikatan silaturahim, lawannya adalah memutus silaturahim.
4. Akhlakul karimah: akhlak yang baik, lawannya adalah akhlak yang buruk

Untuk mendengarkan kajian selengkapnya anda bisa download rekamannya disini: Menuju bersama keluarga Bersama Keluarga (Ust Mahfud Umri Lc)
Dan tanya jawabnya dapat di download dari link: Tanya Jawab Menuju Surga bersama keluarga

Read More..

Alhamdulillah, pada hari ini kami bisa meng upload rekaman kajian Ilmiah tentang Islam, Iman dan Ikhsan yang disampaikan oleh Ustad Mahfud Umri Lc, yang diadakan di Majelis Ta'lim As Sunnah Jl. Nakula I No. 1 Harjamukti, Cimanggis Depok. Kajian ini dinukil dari kitab Syarah Arba'in An Nawawi.

Bagi Ikhwan dan Akhwat yang ingin mendengarkan hasil rekaman kajian tersebut dapat mendownload dari link berikut ini:

1. Kajian Ustad Mahfud Umri Lc
2. Tanya Jawab kajian Ustad Mahfud Umri Lc

Read More..

Berikut adalah kajian yang kami kutip dari situs radiorodja.com yang disampaikan oleh Ustad Abu Yahya Badrussalam Lc. Mudah-mudahan bermanfaat.
=========
Kajian keempat

Kewajiban kita adalah mengikuti Al quran dan Hadits Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah bersabda :

"Telah kutinggalkan bagi kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallam"

Berhukum terhadap Al Quran dan Sunnah adalah wajib hukumnya apabila kita menginginkan jalan yg lurus.
Allah berfirman :
"dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa". (Al An’am : 153)

dan Allah berfirman :
".Maka jika kalian berselisih tentang segala sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (An Nisaa’ : 59)
Maka jika kalian berselisih kembalikan Al Quran dan As Sunnah, bukan kembali kepada Madzhab masing2.
Untuk Penjelasan lebih lengkap dari dalil2 di atas� silahkan dengarkan kajian selengkapnya, dengan mendownload melalui link berikut:


Download kajian : Haruskah Kita Bermadzhab?
Download: Tanya Jawab Haruskan Kita Bermadzhab?

Read More..